eS_Ce KURNIA

Menikmati Sebuah Perjalanan

Gara-Gara Aseton, Palestina Menderita

Agak sulit sebenarnya untuk memahami akar masalah yang terjadi di Timur Tengah yang selalu bergolak, terutama berkaitan dengan masalah Palestina. Rentetan serangan militer yang membabi buta oleh Israel di Jalur Gaza hanyalah salah satu ‘bisul’ kecil yang meletus dari sekian banyak ‘penyakit’ kronis yang dialami Timur Tengah.

Terlepas dari sentimen agama tertentu, akar masalah konflik Arab-Israel yang menjadikan bangsa Palestina sebagai korban dimulai dari surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour, kepada Lord Rothschild , pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis. Surat itu menyatakan posisi yang disetujui pada rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis buat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina, dengan syarat bahwa tak ada hal-hal yang boleh dilakukan yang mungkin merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana.

Keluarnya surat itu (yang akhirnya disebut sebagai Deklarasi Deklarasi Balfour 1917) sebenarnya ‘hadiah’ dari Inggris untuk Dr. Chaim Weizmann, jurubicara terkemuka organisasi Zionisme di Britania Raya yang merupakan ahli kimia, karena atas jasa-jasanya menemukan metode baru memproduksi Aseton, senyawa yang sangat penting untuk memproduksi persenjataan artileri. Aseton diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan pembakar yang diperlukan untuk mendorong peluru-peluru. Jerman memonopoli ramuan aseton kunci, kalsium asetat. Tanpa kalsium asetat, Inggris tak bisa menciptakan aseton dan tanpa aseton takkan ada cordite. Jadi, tanpa cordite, Inggris saat itu mungkin akan kalah dalam perang. Perlu diketahui bahwa senyawa aseton pada masa itu masih dimonopoli oleh Jerman (waktu itu bernama Prusia) sehingga penemuan tersebut membuat Inggris ibarat mendapat ‘durian’ runtuh, apalagi pada saat itu berkobar Perang Dunia Pertama.

Atas jasanya yang sangat besar itulah, pihak Inggris bersedia memenuhi permintaan Weizmann apapun itu. Weizmann hanya meminta satu hal, yaitu ‘tanah air bagi kaum saya (Yahudi), yaitu di Palestina’. Inggris mengabulkannya, dan terjadilah eksodus besar-besaran kaum Yahudi ke tanah Palestina. Inggris tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya bakal memicu sumbu peledak konflik Timur Tengah yang berlarut-larut. Perlu diketahui bahwa selama bangsa Yahudi terusir dari tanah Palestina beribu tahun yang lalu, sudah ada bangsa lain yang menetap di sana, yaitu bangsa Arab Palestina. Di sana juga berdiri kota Yerusalem yang sangat disucikan oleh tiga agama besar, yaitu Islam, Kristiani, dan Yahudi.

Akibatnya tentu bisa diduga, kaum Zionis mendirikan negara Israel (sesuatu yang bertentangan dengan Deklarasi Balfour yang hanya menyebutkan ‘tanah air’, bukan negara) di Timur Tengah, dan konflik pun pecah, hingga sekarang.

sumber ; Yulius Haflan http://www.wikimu.com

January 8, 2009 - Posted by | for me

1 Comment »

  1. mari kita galakkan kembali doa qunut….semoga Allah memenangkan kaum muslimin dimana saja, terutama saudara2 kita di Palestina…

    Comment by y.irfan | January 9, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: