eS_Ce KURNIA

Menikmati Sebuah Perjalanan

Andrea Hirata : Saya Akan Berhenti Menulis

Kendati tetralogi novel karyanya mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat, ternyata tak serta merta membuat Andrea Hirata berkeinginan terus membuat karya serupa. Malah sebaliknya, pria bernama lengkap Andrea Hirata Seman Said Harun berniat berhenti menulis setelah karya keempatnya, Maryamah Karpov, diluncurkan.

Andrea juga mengaku sangat bahagia ketika tahu, mantan gurunya Ibu Muslimah Hafsari mendapatkan penghargaan Satya Lencana Pendidikan dari pemerintah. Karena, kepada sang guru itulah, karya Andrea dipersembahkan. Dan Muslimah adalah salah satu tokoh utama dalam novelnya Laskar Pelangi.

Lantas mengapa ia berkeinginan berhenti menulis? Lelaki kelahiran Pulau Belitong, Propinsi Bangka Belitung 24 Oktober menuturkan alasannya kepada Arif Arianto melalui sambungan telepon, Selasa (2/12) malam. Berikut petikannya :

Ibu Muslimah, yang juga menjadi salah satu tokoh dalam novel Laskar Pelangi karya anda, mendapatkan Satya Lencana Pendidikan dari presiden. Bagaimana perasaan anda?
Yang pasti, haru, bahagia, dan penuh syukur bercampur menyesaki hati saya saat ini. Beliau memang pantas mendapatkannya. Bagi saya, ibu (Muslimah), bukan sekadar seorang guru. Beliau adalah pendidik sejati, seorang pejuang kemanusiaan yang bertekad mengangkat harkat dan martabat orang lain melalui pendidikan. Dan Satya Lencana itu, adalah pengakuan atas bukti dedikasi beliau dalam pendidikan.

Lebih dari itu, bagi saya penghargaan itu sekaligus menjadi hadiah bagi dunia pendidikan secara umum. Saya juga yakin, cepat atau lambat, apa yang dilakukan oleh ibu Muslimah, juga menyadarkan kita semua betapa masih banyak hal yang harus kita lakukan terhadap dunia pendidikan kita.

Saya hanyalah seorang yang mengabarkan saja, tentang keberadaan pendidikan di kampung dimana kami tinggal. Tak lebih dari itu.

Anda masih tertarik untuk menulis tema dunia pendidikan dalam bentuk novel?
Dalam empat karya saya, semua bertutur tentang pendidikan, edukasi. Tetapi menurut saya, sebenarnya tak perlu ada tulisan yang memotret wajah pendidikan kita, bila pemerintah benar-benar tahu kondisi yang sebenarnya. Dan persoalan yang harus dihadapi dunia pendidikan pedidikan juga tidak akan terjadi bilamana semua sensitif terhadap masalah bersama yang dihadapi.

Selain masalah pendidikan apakah anda juga tertarik menulis kisah-kisah herois lain di masyarakat, dengan warna dan corak seperti tetralogi novel anda sekarang?
Seperti yang anda sebut, sebenarnya masih banyak persoalan sosial yang menarik untuk diangkat dalam sebuah tulisan, karena selama ini persoalan itu tidak pernah terekam dan terekspose publik, karena berada di wilayah periperal atau wilayah pinggiran. Ini juga menjadi sumber ide yang menarik.

Tapi, sebenarnya, sampai karya keempat dalam tetralogi novel saya ini, yaitu Maryamah Karpov, ( keempat novel Andrea adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Endensor, serta Maryamah Karpov -red), saya sudah merasa cukup. Saya berketetapan tidak akan menulis lagi.

Maksud anda?
Ya. Saya akan cooling down, saya akan berhenti menulis, entah sampai kapan. Yang jelas, saya akan berhenti menulis. Memang, masih banyak ide yang ada di kepala saya, dan saya rasa semuanya sangat menarik.

Apakah karena karya anda menjadi best seller, sehingga anda merasa sudah cukup?
Bukan karena itu. Memang, alhamdulillah, hingga saat ini Laskar Pelangi sudah terjual hampir satu juta eksemplar. Tetapi bukan itu alasannya. Saya hanya ingin berhenti menulis saja.

Mengapa anda membuat keputusan seperti itu?
Jujur saya katakan, setelah berhasil merampungkan tulisan saya itu, ternyata apa yang saya alami di luar dugaan saya. Saya mengalami kejadian yang luar biasa, dalam waktu singkat yaitu tiga tahun. Malah, terlalu luas menurut saya.

Secara pribadi, saya kaget dengan sambutan dari masyarakat atas perkembangan karya ini. Tetapi, pada saat bersamaan saya juga merasa tidak siap.

Tidak siap seperti apa?
Saya tidak berbakat menjadi orang terkenal. Saya hanyalah orang kampung yang biasa hidup adem ayem. Tetapi, sekarang orang memandang saya seolah-olah seorang selebriti. Banyak kejadian aneh yang muncul kembali, di saat orang mengenal saya. Bahkan kejadian-kejadian beberapa tahun silam, yang saya pun sudah tidak ingat, muncul kembali.

Gosip pun muncul mengiringi. Kehidupan saya yang sebelumnya adem ayem, kini berantakan. Bahkan, kehidupan saya telah menjadi sebuah komoditas pemberitaan. Ini yang benar-benar tidak saya duga sebelumnya. Kini, saya sangat merindukan kehidupan saya masa lalu yang adem ayem.

Tapi itu bukankah justeru menjadi sebuah tantangan. Seperti perumpamaan semakin tinggi sebuah pohon juga semakin kencang angin menerpa?
Benar, itu bagi orang yang memiliki jiwa selebriti. Tetapi saya bukanlah orang tipe seperti itu. Saya hanyalah orang kampung biasa, yang tak terbiasa dengan ingar bingar kehidupan yang disebut selebriti. Barangkali naif bagi orang lain, tapi itulah saya.

Sebenarnya, saya semula berharap, saya melihat apa yang saya hasilkan orang hanya read my book don’t read me. Bacalah karya saya, dan jangan membaca tentang kehidupan pribadi saya. Saya benar-benar merindukan kehidupan yang adem, karena saya memang orang kampung. Saya ingin seperti Ahmad Tohari (seorang penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk – red), yang hidup tenang di desa.

Anda kan menyebut berhenti menulis ini kan dalam rangka cooling down, artinya anda akan menulis kembali, kira-kira kapan?
Ya, memang untuk cooling down, tapi sampai kapan saya tidak tahu. Yang pasti, bagi saya empat karya, tetralogi novel ini, saya kira sudah cukup. Saya akan berhenti. Sekali lagi, kalau sampai kapan saya tidak tahu.

sumber :

December 10, 2008 - Posted by | for me | , , ,

4 Comments »

  1. wah sayang sekali yaaa
    tapi emang patut dibanggakan Andrea punya jiwa seperti itu

    Comment by iBnu | December 10, 2008 | Reply

  2. minggu 14 desember kami sengaja datang ke belitong utk tatap muka dengan ibu muslimah, alhamdulillah beliau seperti apa yang digambarkan andrea dalam novel nya, bersahaja sekali dan membagakan. Itulah gambarannya, jadi teruslah berkarya dengan tidak perlu menjadi selebritis. Banyak hal tentang realitas kehidupan yang dapat ditulis untuk membangkitkan kesadaran sosial kita, yang pada gilirannya andrea tidak menjadi selebritis tapi lebih dari itu…. pahlawan…..!

    Comment by AMI | December 16, 2008 | Reply

  3. bang andrea aku benar-benar pengagum kamu.kamu adalah tokoh panutan aku.berharab bisa main kebangka ya aku pengen banget ketemu.aku udah baca semua novel tetraloginya dan kujadikan koleksi keramat so nanti suatu saat aku punya anak bakal aku suruh baca buku itu .

    Comment by nisa | December 23, 2008 | Reply

  4. hehe gpp bang
    klo berlebihan emang jd ga enak ya
    berhentilah klo udah terasa cukup buat kita
    hidupnya tetap mjd berkah utk org byk ya
    SEMANGAT..

    Comment by tik4 | December 28, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: