eS_Ce KURNIA

Menikmati Sebuah Perjalanan

MUSIBAH BEREBUT ‘BERKAH’

Oleh : A. Mustofa Bisri

Ramadan mestinya merupakan bulan berkah. Tapi kita dikejutkan oleh suatu peristiwa yang memilukan dan sekaligus luar biasa aneh: 21 nyawa melayang saat pembagian zakat. Musibah apa ini, ya Allah! Seorang kaya di Pasuruan yang agaknya tidak percaya dengan amil zakat manapun, mengundang para mustahiq zakat untuk diberi zakat. Melebihi BLT (Bantuan Langsung Tunai) orang-orang pun berbondong-bondong datang dan berdesak-desakan mengambil zakat. Dan berakibat jatuhnya banyak korban terinjak-injak. 

Seperti biasa, beberapa tokoh agama pun langsung memberikan komentar. Ada yang menyalahkan si orang kaya pemberi zakat. Bahkan ada yang terang-terangan menyatakan bahwa kejadian yang mengenaskan itu akibat si orang kaya pamer kekayaan. Ada yang mengatakan bahwa kejadian ini akibat orang tidak percaya dengan badan amil zakat yang ada.

 

Bagi kita yang terbiasa menyalahkan orang, sangatlah mudah mencari kambing hitam. Kambing hitam dalam peristiwa tragis itu bisa si orang kaya yang berzakat yang (meski pun niatnya mungkin tidak pamer, tapi agar orang-orang kaya lainnya mau juga berzakat) tidak memperhitungkan caranya; bisa mereka yang berebut zakat yang tidak sabaran; bisa para tokoh agama yang seharusnya member tausiah kepada masyarakat dalam soal keagamaan; dan sangat bisa pemerintah yang berkewajiban dan berhak mengangkat amil zakat, berkewajiban mensejahterakan dan melindungi rakyat.

Tapi marilah, mumpung masih berada di bulan Ramadan, setelah menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada mereka yang terkena musibah, mari kita merenung sejenak mencari akar masalah mengapa terjadi musibah seperti di Pasuruan itu? Saling menyalahkan atau hanya mencari kambing hitam, terbukti tidak memecahkan masalah dan sering kali justru hanya menambah permasalahan.
Siapakah mereka yang begitu bersemangat memenuhi undangan si orang kaya itu? Mereka rata-rata adalah perempuan. Kaum ibu yang sehari-hari dipusingkan oleh masalah dapur dan belanja kebutuhan keluarga. Anak-anak di bulan puasa ini minta menu bukanya lebih enak dari biasanya. Sementara harga-harga kebutuhan pokok di pasar semakin tidak terjangkau dan hari raya akan datang pula. Maka anehkah bila mereka begitu bersemangat menyambut undangan si dermawan, hingga dibela-belain berdesakan untuk mendapatkan ‘berkah’ zakat?

Kalau kita perhatikan, peristiwa seperti yang terjadi di Pasuruan –atau peristiwa-peristiwa berdesakan berebut ‘berkah’ lainnya di tempat-tempat lain—itu, tampaknya mengiringi zaman dimana ‘ketergantungan’ masyarakat pada materi sudah sedemikian mengerikan. Kepentingan duniawi sudah menjadi ‘tuhan’ yang dapat menggiring orang yang berakal melakukan hal-hal yang tidak masuk akal; membuat orang terhormat mencampakkan kehormatannya; membuat orang beragama menjual agamanya; membuat saudara tega terhadap saudaranya; dsb dst.

Peristiwa-peristiwa menyedihkan seperti itu tidak terbayangkan bisa terjadi di zaman dulu di saat masyarakat masih menganggap hidup di dunia ini hanya sekedar mapir ngombe, singgah minum sebentar. Di saat hidup sederhana masih menjadi budaya yang dipujikan. Di saat pasar rakyat masih belum dijuluki pasar tradisonal yang harus mengalah dengan mall-mall dan supermarket-supermarket. Di saat masyarakat belum dijejali setiap hari oleh iming-iming tv agar menjadi konsumtif dan hedonis. 

Mumpung masih di bulan suci Ramadan yang kata para kiai dan ustadz bulan pelatihan mengendalikan diri, apabila kita setuju bahwa akar masalah –hampir semua masalah—dalam masyarakat adalah akibat kecintaan yang berlebihan terhadap materi dan pemanjaan yang kelewatan terhadap jasmani, sehingga melupakan ruhani, maka usulan yang paling masuk akal saya ialah: mari lah kita kampanyekan untuk kembali kepada budaya hidup sederhana. Memandang dunia dan materi secara pas: hanya sebagai sarana dan alat dan bukan tujuan hidup.

Atau Anda punya pendapat lain dan usul yang lebih masuk akal? 

Sumber

September 18, 2008 - Posted by | for us | ,

2 Comments »

  1. Seandainya tiap orang yang mengantri tidak punya pikiran bahwa tidak akan kebagian, mungkin musibah itu ngga bakal terjadi. Kan sang yang bagi2 infak juga dah menyanggupi bakal ngasi banyak dan cukup…

    Comment by Arief Maulana | September 19, 2008 | Reply

  2. ya memang begitulah budaya indonesia… gak bisa tertib,slalu saling serobot! akhire ya ciloko sendiri!

    Comment by vita wahyunari | September 20, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: