eS_Ce KURNIA

Menikmati Sebuah Perjalanan

Nikah Muda

Dalam budaya liberalisme seperti sekarang ini, semua serba bebas dan berani. Dalam bidang hubungan perteman yang spesial (pacaran), terasa sangat memprihatinkan. Batasan norma agama yang dulu sangat di jaga, kini mulai terkikis. Banyak diantara kaum muda yang sudah tidak malu lagi untuk berpegangan tangan, berpelukan, berciuman dll di area publik.

Padahal jika kita melihat dari sisi agama, berduaan saja dengan yang bukan muhrimnya itu dilarang, apalagi sampai berpandangan dan menyentuh bagian tubuh nya.

Namun demikian, Pacaran sekarang ini boleh dibilang sebagai sebuah kebutuhan oleh generasi muda. Tengok saja acara di TV, yang sering mengangkat tema-tema cinta kasih para remaja. Yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi para pemirsanya untuk menerima dan menganggap bahwa pacaran itu wajar.

Tidak bisa dipungkiri kalau kita kesulitan untuk melawan pengaruh budaya asing tersebut. Oleh karena itu perlu adanya perubahan tradisi agar kebutuhan-kebutuhan nafsu tersebut dapat tersalurkan dan menjadi halal. Artinya bagaimana kita mengubah agar yang semula haram menjadi halal.

Pernikahan pada usia muda, mungkin itu salah satunya. Memang dalam usia yang relatif muda sisi mental dan emosi belum stabil, namun seiring berjalannya waktu kelemahan itu akan bisa dikurangi.

Mengenai nafkah, mungkin juga akan menjadi masalah. karena masih muda dan mungkin belum bekerja maka si suami mungkin hanya bisa memberi nafkah batin tetapi tidak untuk nafkah lahir. OLeh karena itu perlu sedikit perubahan pola pikir orang tua, kalau tradisi lama, ketika anak sudah menikah maka anak lepas dari orang tua, maka hal ini harus dirubah dengan menganggap pasangan muda tersebut masih sebagai anak. Jadi tanggung jawab orang tua untuk memberi nafkah kepada anaknya tetap dilakukan. Sampai mereka sudah benar-benar siap mandiri

Dari pasangan muda yang menikah juga harus punya komitmen dan tau diri, artinya mereka harus sadar akan tanggung jawab dia sebagai anak dan juga sebagai orang yang sudah berkeluarga namun masih menumpang hidup di orang tua masing-masing. Jadi gak perlu lah berbuat yang macam-macam yang nantinya akan memberatkan orang tua.

Dengan begitu, insyaallah semua akan sama-sama enak, dari sisi anak kebutuhan biologisnya terpenuhi dan orang tua tidak khawatir mengenai pergaulan anaknya, karena mereka sudah punya pasangan, dan yang terpenting dari itu semua adalah jauh dari dosa.

Yang diperlukan sekarang adalah perubahan pola pikir dari kita semua. Janganlah kita tetap kokoh mempertahankan tradisi lama hanya karena malu sama tetangga, karena seharusnya kita malu dan takut hanya kepada Allah SWT

ini semua hanya sebuah wacana, yang terbaik adalah menikah pada saat yang tepat dimana kita sudah siap dalam hal mental dan material.

mohon maaf kalo ada yang tidak berkenan

June 4, 2008 - Posted by | for us | , ,

1 Comment »

  1. Setuju. Banyak pola pikir yg mesti diubah. Pikiran yg tak mengikuti perkembangan zaman jg akm menyusul kepunahan dinosaurus. Menikah muda memang menjadi solusi terbaik di tengah maraknya maksiat. Adapun kelemahan2nya, sy rasa terlalu banyak solusi yg ad. Kita hanya perlu membuka pikiran & jeli melihat serta memanfaatkan momentum kesempatan yg ad. Smoga bnyk generasi muda yg membca posting ini.

    Comment by Arief maulana | June 4, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: