JIS – Japanese Industrial Standards
JIS – Japanese Industrial Standards specifies the standards used for industrial activities in Japan. The standardization process is coordinated by Japanese Industrial Standards Committee – JISC – and published through Japanese Standards Association – JSA.
The objective of the Japanese Standards Association – JSA – is “to educate the public regarding the standardization and unification of industrial standards, and thereby to contribute to the improvement of technology and the enhancement of production efficiency”.
The Japanese industrial standards are organized in the divisions:
A. Civil Engineering and Architecture
* General
* Test and Inspection
* Design and Plan
* Accommodation and Fixture
* Material and Fittings
* Execution
* Working Machine and Appliance
* Miscellaneous
B. Mechanical Engineering
* General
* Machine and Parts
* Common to Factory Automation
* Tools, Jig and Implements
* Machine Tool
* Measuring and Calculating Machine and Appliances, Machine for Physics Machine and Appliances, Machine for Physics
* General Machine
Read more »
Cita-Cita Itu Masih Ada

Cita-cita itu masih ada
Menjadikan Indonesia negara maritim
Tetapi apa itu negara maritim ?
masih belum jelas terdefinisikan
apakah negara yang memiliki laut luas melebihi daratan
atau negara yang memiliki banyak pulau
atau negara yang punya armada laut yang handal
entahlah, namun intinya mungkin
“negara yang mampu mengelola sumber daya bahari/kelautan”
Wallpaper
bosen dengan gambar wallpaper di destop??
ni ada link untuk download wallpaper : http://interfacelift.com
LISENSI PREMIUM AVIRA (PROMOSI)
Namanya juga memakai produk bajakan jadi harus pinter-pinter cari updetan lisensi
ni alamatnya :
https://license.avira.com/de/promotion-j0mhc32ccgdwatzey42z
https://license.avira.com/en/promotion-hylm9fbv7chaxs8zbl83
tinggal isi aja formulirnya, lalu dapet deh promo lisensinya.
selamat mencoba
Berat Badan Ideal
Yang saya tau untuk mengetahui berat badan kita ideal apa tidak adalah dengan cara mengurangi tinggi badan kita dengan angka 110.
misalnya tinggi badan kita 170 cm
maka berat badan ideal kita adalah 170-110 = 60 kg
nah, ini ada situs yang mungkin bisa dijadikan perbandingan untuk mengukur berat badan ideal kita.
semoga bermanfaat
Dalang Poer : Kudu Misoh
Kasihan Banget neh Dalang….Simak aja lirik lagunya
KUDU MISOH – DALANG POER
Cobo to gagasen lelakon ku iki
Ra ono senenge, susah seng tak temoni
Ngolah ngaleh gawean, kabeh ra nate ngunduh
Dino-dino isine mong kudu misoh
Emboh
Nyobo nggarap sawah tinggalane wong tuaku
Gumunku saben tandur, rego rabuk-e dhuwur
bareng dipo panen, rego gabahe medun
kabeh modal utangan, ora biso kesaur
ajur
Sawah tak dol murah, aku nyicil angkodes
lagi nyoper seminggu, rego bensine ngentes
tarip tak undakne penumpang nggrundel ae
kerep telat oli, rusak ring sak metal-e
ho..kere
montor ngangkrak neng bengkel rabiso ogel-ogel
rasane uripku mung kari tengel-tengel
Nyepi nang kuburan,golek tebusan togel
Nomer ngeblong terus aku tambah dedel duel
ho..gathel
kabeh dalan wes buntu, aku nekad bandar dadu
durung ono seng wudu, keamanan wes njaluk sangu
ono oknum tentara, ono oknum polisi
buka’an wingi-wingi, wes kerep tak amplopi
bareng prei ra nyangoni, aku diseret nyang bui
di ganjar telung sasi, misoh sak njero ning ati
Jancok
Jangkrik
JEMBATAN SELAT SUNDA : BLUNDER KONSEP DAN TEKNOMIK
JEMBATAN SELAT SUNDA : BLUNDER KONSEP DAN TEKNOMIK
Daniel Mohammad Rosyid (Jurusan Teknik Kelautan ITS Surabaya)
PENDAHULUAN
Ada tiga alasan mendasar mengapa JSS adalah sebuah mega-mubazir, blunder teknologi, dan ekonomi regional untuk “menghubungkan” Jawa-Sumatra. Alasan pertama, secara paradigmatik, JSS adalah turunan paradigma pulau besar yang memandang laut dan selat sebagai pemisah, atau paling tidak semacam sungai besar. Manusia pulau besar cenderung memaksakan kudanya (untuk zaman sekarang adalah mobilnya) untuk menyeberang. Paradigma kepulauan memandang laut dan selat justru sebagai penghubung (jembatan) alamiah, sedangkan kapal adalah alat angkut yang cocok untuk memanfaatkan daya dukung air laut tersebut bagi muatan yang diangkut kapal-kapal tersebut..
Alasan kedua, secara topologi, jembatan hanya solusi jarak terpendek bagi concave landmass domain yang lahir dari cara berpikir pulau besar. Untuk negara kepulauan, dengan ruang topologi yang jauh berbeda, satu jembatan justru membentuk artificial concave landmass domain yang problematik karena justru menurunkan connectedness-nya. Artinya, kehadiran jembatan justru menuntut adanya jembatan tambahan agar connectedness kedua pulau dapat dipertahankan.
Solusinya adalah paradigma kepulauan yang membuka relaxed design domain tanpa mengubah ruang topologi landmass yang sudah ada. Solusi untuk relaxed design domain itu adalah kapal (penyeberangan/ferry), yang teknologi generasi terkininya sudah tersedia dan well-proven. Air laut bersama sistem ferry canggih ini membentuk jembatan alamiah dalam jumlah tak-terbatas sehingga mempertahankan connectedness kedua pulau.





