eS_Ce KURNIA

Menikmati Sebuah Perjalanan

Berat Badan Ideal

Yang saya tau untuk mengetahui berat badan kita ideal apa tidak adalah dengan cara mengurangi tinggi badan kita dengan angka 110.

misalnya tinggi badan kita 170 cm
maka berat badan ideal kita adalah 170-110 = 60 kg

nah, ini ada situs yang mungkin bisa dijadikan perbandingan untuk mengukur berat badan ideal kita.

semoga bermanfaat

September 30, 2009 Posted by suhar | for me | | No Comments Yet

Dalang Poer : Kudu Misoh

Kasihan Banget neh Dalang….Simak aja lirik lagunya

KUDU MISOH – DALANG POER

Cobo to gagasen lelakon ku iki
Ra ono senenge, susah seng tak temoni
Ngolah ngaleh gawean, kabeh ra nate ngunduh
Dino-dino isine mong kudu misoh

Emboh

Nyobo nggarap sawah tinggalane wong tuaku
Gumunku saben tandur, rego rabuk-e dhuwur
bareng dipo panen, rego gabahe medun
kabeh modal utangan, ora biso kesaur

ajur

Sawah tak dol murah, aku nyicil angkodes
lagi nyoper seminggu, rego bensine ngentes
tarip tak undakne penumpang nggrundel ae
kerep telat oli, rusak ring sak metal-e

ho..kere

montor ngangkrak neng bengkel rabiso ogel-ogel
rasane uripku mung kari tengel-tengel
Nyepi nang kuburan,golek tebusan togel
Nomer ngeblong terus aku tambah dedel duel

ho..gathel

kabeh dalan wes buntu, aku nekad bandar dadu
durung ono seng wudu, keamanan wes njaluk sangu
ono oknum tentara, ono oknum polisi
buka’an wingi-wingi, wes kerep tak amplopi
bareng prei ra nyangoni, aku diseret nyang bui
di ganjar telung sasi, misoh sak njero ning ati

Jancok

Jangkrik

September 29, 2009 Posted by suhar | for us | , , | No Comments Yet

JEMBATAN SELAT SUNDA : BLUNDER KONSEP DAN TEKNOMIK

JEMBATAN SELAT SUNDA : BLUNDER KONSEP DAN TEKNOMIK

Daniel Mohammad Rosyid (Jurusan Teknik Kelautan ITS Surabaya)

PENDAHULUAN

Ada tiga alasan mendasar mengapa JSS adalah sebuah mega-mubazir, blunder teknologi, dan ekonomi regional untuk “menghubungkan” Jawa-Sumatra. Alasan pertama, secara paradigmatik, JSS adalah turunan paradigma pulau besar yang memandang laut dan selat sebagai pemisah, atau paling tidak semacam sungai besar.  Manusia pulau besar cenderung memaksakan kudanya (untuk zaman sekarang adalah mobilnya) untuk menyeberang. Paradigma kepulauan memandang laut dan selat justru sebagai penghubung (jembatan) alamiah, sedangkan kapal adalah alat angkut yang cocok untuk memanfaatkan daya dukung air laut tersebut bagi muatan yang diangkut kapal-kapal tersebut..

Alasan kedua, secara topologi, jembatan hanya solusi jarak terpendek bagi concave landmass domain yang lahir dari cara berpikir pulau besar. Untuk negara kepulauan, dengan ruang topologi yang jauh berbeda, satu jembatan justru membentuk artificial concave landmass domain yang problematik karena justru menurunkan connectedness-nya. Artinya, kehadiran jembatan justru menuntut adanya jembatan tambahan agar connectedness kedua pulau dapat dipertahankan.

Solusinya adalah paradigma kepulauan yang membuka relaxed design domain tanpa mengubah ruang topologi landmass yang sudah ada. Solusi untuk relaxed design domain itu adalah kapal (penyeberangan/ferry), yang teknologi generasi terkininya sudah tersedia dan well-proven. Air laut bersama sistem ferry canggih ini membentuk jembatan alamiah dalam jumlah tak-terbatas sehingga mempertahankan connectedness kedua pulau.

Read more »

September 15, 2009 Posted by suhar | for me | | 4 Comments