Dua hari terakhir adalah di dusun pancur, bangka barat tempat kami melakukan penyuluhan. Kondisi umum masyarakat disini ternyata lebih banyak menjadi petani sawit dan karet. Setelah berbincang bincang dengan masyarakat ternyata harga sawit per kilo nya adalah Rp.900,-.Setiap buah mempunyai berat antara 6-9 kg dan dalam 1 bulan bisa 2 kali petik (panen), selain dari bertani masyarakat juga membuat kerajinan berupa atap dari daun, pekerjaan ini bisanya dilakukan oleh ibu-ibu di dusun pancur ini.
Dusun pancur ini memang terletak agak kedalam (tidak di tepi pantai) tetapi didekat dusun mereka terdapat sungi yang lumayan besar dengan lebar 10-20 meter. Oleh karena itu masyarakat nelayan disana lebih banyak mencari ikan di sungai dari pada dilaut. Selain karena itu masyarakat dusun pancur ini trauma jika harus pergi melaut karena ada perompak dari desa lain yang merampok sebagian dari tangkapan mereka ketika berada dilaut.
KArena hanya digunakan di sungai, maka alat tangkap dan perahu yang digunakan masih relatif sederhada, kadang hanya sampan biasa tanpa mesin dan digerakkan oleh dayung. Dermaga tembat tambat kapal juga sederhana, terbuat dari kayu yang sambungannya sudah tidak kuat lagi sehingga kalo banyak orang yang naik diatasnya dermaga tersebut rawan roboh.
Selain masalah keamanan dalam melaut, masyarakat disini juga meminta agar segera diupayakan listrik masuk dusun mereka
April 23, 2009
Posted by
suhar |
for me |
Bangka Barat, Dusun Pancur, harga sawit, karet, Sampan, Sederhana, sungai |
No Comments Yet
setelah 2 hari melakukan penyuluhan kepada Masyarakat Batu Belubang, Tim Bindesir(Pembinaan Desa Pesisir) yang dibentuk atas kerjasama ITS dan Bakorkamla melakukan penyuluhan di desa lain yaitu Desa Tanjung Niur, Dusun Tegek dan Dusun Basun, Kegiatan Penyuluhan ini dipusatkan di desa tanjung niur. hal ini dikarenakan terdapat kesamaan karakteristik dari ketiga desa/dusun tersebut.
Kondisi Masyarakat Desa Tanjung Niur, Dusun Tegek dan Dusun Basun.
Berbeda dengan kondisi masyarakat Desa batu Belubang, Masyarakat di tiga desa ini tidak mendapat listrik dari PLN. Selain itu pekerjaan masyarakat di sini lebih beraneka ragam, ada yang bekerja di Timah, Kelapa Sawit, Nelayan, dan Tengkulak ikan.
Kebetulan ketika tim bindesir berkunjung ke desa ini, terdapat salah seorang warga yang sedang membuat kapal ikan dengan panjang 7 meter. setelah melakukan sedikit tanya jawab dengan pemilik kapal ternyata diketahui bahwa untuk membagun kapal ikan dengan panjang 7 meter dibutuhkan waktu selama 14 hari, dengan biasa material (kayu) sebesar Rp.3 Juta dan ongkos pegawainya juga 3 juta rupiah. Jumlah tersebut masih terus bertambah untuk pembelian mesin dan jala sebagai alat tangkap ikan.
Memang rata-rata kapal ikan yang dimiliki atau yang ada di desa ini memiliki panjang 5-7 meter. dengan kondisi kapal yang begitu kecil otomatis nelayan tidak bisa pergi jauh ke laut untuk mencari ikan. merekan hanya mencari ikan di perairan dangkal saja.
Alat tangakap yang sering digunakan adalah jala, pancing dan keramba ikan.
ikan hasil tangkapan nelayan di sini banyak yang dikeringkan menjadi ikan asin dan diolah hingga menjadi terasi. ikan-ikan tersebut di keringkan di rumah-rumah panggung yang banyak terdapat di tepi pantai.
didesa ini juga terdapat dermaga tempat tambat kapal, namun dermaga tersebut masih dalam proses pembangunan, kira-kira sudah selesai 75%.
Keluhan yang ada di desa ini selain tidak adanya listrik adalah adanya bannyak tengkulak yang biasa di sebut sebagai “Bos” oleh para nelayan.
Kebanyakan nelayan disini tidak punya jala untuk menangkap ikan, oleh karena itu mereka memimjam jala kepada BOS-Bos tadi dengan konsekwensi ikan yang di dapat harus dijual pada BOS yang telah mereka pinjam jalanya. Kondisi seperti ini jelas merugikan nelayan karena para tengkulak bisa memainkan harga ikan dengan seenaknya.
Masyarakjta berharap ada bantuan berupa jala yang diberikan oleh pemrintah langsung kepada para nelayann, sehingga mereka tidak tergantung lagi kepada para BOS-BOS yang ada disana.
April 23, 2009
Posted by
suhar |
for me |
Desa Tanjung Niur, Dusun Basun, Dusun Tegek, kapal ikan, kapal kayu, nelayan, pesisir, tengkulak |
No Comments Yet
Tanggal 14 April Tim Pembina Desa Pesisir Berangkat dari Surabaya menuju Pulau Bangka, berita selengkapanya bisa dibaca disini
Selama 6 hari tim tersebut akan melakukan penyuluhan ke masyarakat di 5 desa yang ada di Pulau Bangka yaitu Desa Batu Belubang, Desa Tanjung Niur, Dusun Tegek, Dusun Basun dan Dusun Pancur. Seluruh desa dan dusun tersebut berada di kabupaten Bangka Barat.
Kondisi masyarakat di Desa Batu Belubang
Pada daerah pesisir Desa Batu Belubang banyak dihuni oleh masyarakat dari suku bugis. Pekerjaan utama mereka adalah nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan bagan, baik itu bagan apung dan bagan tetap. Tradisi yang menarik dari suku bugis di desa ini adalah mereka meminum air hujan yang di alirkan melalui atap rumah susun mereka ke dalam gentong-gentong besar. Mereka tidak mau minum air dari sumur walaupun di desa ini air tanah cukup dangkal dengan kualitas air yang baik (jernih dan tidak bau). Cukup menggali sedalam 1 meter saja maka sudah terdapat air tawar meskipun letaknya di daerah pantai. Mereka menggunakan air sumur ini hanya untuk keperluan mandi dan mencuci saja.
Didesa ini sebelumnya telah diadakan program pembangunan desa, hal ini terlihat dengan adanya fasilitas MCK dan drainase. Khusus untuk selokan yang sudah dibangun ternyata letaknya terlalu tinggi bila dibanding dengan daerah di sekitarnya sehingga selokan tersebut tidak berrfungsi sebagaimana mestinya, malah air dari selokan mengalir ke daerah pemukiman warga.
Keluhan dan kebutuhan yang sempat disampaikan masyarakat Desa Batu Belubang ini ada dua hal yaitu :
1. Kualitas Air Hujan yang mereka minum.
Air minum yang mereka gunakan adalah air hujan yang dialirkan melaui atap rumah mereka menuju tempat tertentu seperti tong/gentong yang terbuat dari plastik. Ketika atap rumah mereka terbuat dari seng mereka tidak khawatir tentang kualitas air tersebut, namun kita tau bahwa seng tersebut mudah sekali terkena korosi, sehingga masyarakat disana lebih memilih asbes untuk atap rumah mereka dengan alasan lebih awet bila dibandingkan dengan seng. Dari sinilah masalah muncul, mereka mempertanyakan bagaimana kualitas air yang dialirkan melalui atap asbes. Apakah terdapat kandungan-kandungan zat tertentu yang berbahaya bagi kesehatan?
Saat ini tim dari ITS dibawah Jurusan Teknik Lingkungan sedang mengkajinya
2. Kebutuhan Adanya Tempat Berkumpul
Selama ini masyarakat Desa Batu Belubang Menggunakan Rumah Kepala Dusun, sekolah dan Musholla yang ada di desa lain sebagai tempat berkumpul untuk merayakan acara adat. Oleh karena itu mereka meminta agar dibuatkan sebuah tempat yang bisa menampung sekitar 70 orang. Tempat itu nantinya akan digunakann untuk pertemuan dan upacara adat ataupun untuk perayaan hari besar islam maupun nasional.
Tim ITS melaui Jurusan Arsitekturnya juga akan membuat desain tempat tersebut agar nyaman untuk digunakan sesuai dengan keperluanya.
April 23, 2009
Posted by
suhar |
for me |
Bakorkamla, Bangka Barat, Bindesir, Desa Batu Belubang, ITS, Kondisi Masyarakat Pesisir |
No Comments Yet